You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Inggris kalahkan Prancis 6-4, salah satu laga klasik terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia
- Penulis, Emma Smith
- Peranan, Jurnalis BBC Sport
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 6 menit
Inggris sukses mengunci kemenangan dramatis dan menyegel tempat ketiga pada Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Prancis dalam laga luar biasa yang menghadirkan 10 gol, enam di antaranya dicetak tim Inggris.
Pencapaian ini menjadi hasil terbaik tim The Three Lions di Piala Dunia sejak mereka menjadi juara pada tahun 1966.
Bukayo Saka menjadi pemain Inggris kedua yang berhasil mencetak hat-trick dalam fase gugur Piala Dunia, menyamai catatan legendaris Sir Geoff Hurst pada final 1966. Satu-satunya pemain lain yang pernah mencetak tiga gol ke gawang Prancis di turnamen ini adalah Pele pada tahun 1958.
Hasil ini memastikan Inggris meraih pencapaian tertinggi mereka di Piala Dunia sejak menjadi juara pada 1966, sekaligus menjadi hasil terbaik mereka sepanjang sejarah saat berlaga di luar.
Kemenangan ini diraih dalam laga perebutan tempat ketiga dengan jumlah gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia, melampaui rekor kemenangan Prancis 6-3 atas Jerman Barat pada 1958.
Selain itu, ini menjadi kali pertama bagi Inggris mengalahkan tim dengan peringkat FIFA yang lebih tinggi di Piala Dunia sejak kemenangan atas Argentina pada 2002.
Menyusul kekalahan menyakitkan dari Argentina di semifinal hari Rabu lalu, Inggris membuktikan mereka tidak terpuruk dalam kekecewaan. Mereka langsung tancap gas dan unggul empat gol di babak pertama dalam laga sarat drama yang menjungkirbalikkan semua prediksi suram sebelum pertandingan.
Saka mengemas dua gol setelah Declan Rice dan Ezri Konsa membawa Inggris memegang kendali laga di 20 menit pertama.
Bagi Prancis, tertinggal empat gol di paruh waktu merupakan yang pertama kalinya terjadi sejak April 1930.
Para pemain Les Bleus tampaknya mendapat "semprotan" keras di ruang ganti dari sang manajer, Didier Deschamps, yang menjalani laga terakhirnya sebagai nakhoda tim nasional.
Alhasil, momentum berbalik total usai turun minum. Prancis berhasil memperkecil ketertinggalan dengan mencetak tiga gol dan melewatkan sejumlah peluang emas untuk menyamakan kedudukan.
Kylian Mbappe mencetak sepasang gol yang mengapit gol Bradley Barcola.
Torehan ini membawanya memimpin perburuan Sepatu Emas 2026 sekaligus melompati Lionel Messi untuk menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia dengan koleksi 22 gol.
Namun, Saka melengkapi torehan hat-trick-nya pada menit ke-87 setelah Malo Gusto melakukan pelanggaran terhadap Djed Spence.
Ousmane Dembele sempat melepaskan sepakan melengkung pada menit keenam masa injury time untuk mengubah skor menjadi 5-4. Akan tetapi, aksi individu Jude Bellingham yang meliuk melewati pertahanan Prancis pada menit ke-98 akhirnya mengunci kemenangan dramatis Inggris.
Prancis belum pernah kebobolan hingga enam gol dalam satu pertandingan Piala Dunia sebelumnya. Ini juga menjadi kali pertama mereka kebobolan enam gol di kompetisi apa pun dalam kurun waktu 66 tahun.
Sementara itu, Bellingham menutup turnamen individunya yang luar biasa dengan torehan tujuh gol di Piala Dunia kali ini—jumlah terbanyak yang pernah dicetak pemain Inggris dalam satu edisi turnamen.
"Sangat menakjubkan," ujar mantan bek Inggris, Stephen Warnock, dalam program Match of the Day. "Ini adalah salah satu permainan sepak bola menyerang terbaik yang kita lihat sepanjang turnamen."
"Banyak talenta luar biasa yang unjuk gigi," tambah Danny Murphy. "Beberapa skema sepak bola yang saya lihat hari ini adalah yang terbaik yang pernah saya saksikan. Pertandingan ini menyuguhkan segalanya."
Bagaimana jalannya pertandingan?
'Kekacauan' pada pertandingan penuh gol ini dimulai saat laga baru berjalan tiga menit. Declan Rice, yang menyandang peran kapten karena Harry Kane memulai laga dari bangku cadangan.
Declan sukses memotong umpan Desire Doue di garis tengah. Gelandang Arsenal itu kemudian menggiring bola sendirian sebelum melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti yang gagal dibendung kiper Prancis, Mike Maignan.
Tidak butuh waktu lama bagi Rice untuk kembali menyerang. Ia mengirimkan umpan dari pojok, yang langsung disambar oleh sundulan bek Ezri Konsa untuk menggandakan keunggulan Inggris.
Kedua tim tampil sangat "terbuka", dengan menyisakan ruang menganga di lini pertahanan mereka.
Celah ini berhasil dimanfaatkan dengan sempurna oleh Inggris untuk menambah dua gol lagi sebelum turun minum. Lewat sebuah skema serangan balik cepat, Bukayo Saka mendapati dirinya berdiri bebas tanpa kawalan di paruh lapangan Prancis.
Meski tembakan pertamanya sempat dimentahkan Maignan, Saka berhasil memanfaatkan kesempatan setelah menerima operan dari Marcus Rashford.
Winger Arsenal tersebut kemudian mencetak gol keduanya di masa injury time babak pertama, menuntaskan umpan dari rekan seklubnya, Eberechi Eze, dengan sepakan kaki kiri dari sudut sempit.
Prancis yang tertinggal jauh langsung tancap gas selepas jeda. Mereka berhasil memperkecil ketertinggalan pada menit ke-48 lewat serangan Kylian Mbappe.
Hanya berselang enam menit, Barcola sukses menjebol tiang dekat gawang Dean Henderson untuk mengubah skor menjadi 4-2.
Momentum Les Bleus kian tak terbendung ketika Mbappe mencetak gol ketiganya bagi Prancis di laga ini.
Gol tersebut merupakan torehan ke-10 Mbappe di Piala Dunia 2026, yang membawanya memimpin daftar top skor turnamen di atas Lionel Messi—yang negaranya, Argentina, bersiap menghadapi Spanyol di partai final.
Tak hanya itu, penyerang Prancis tersebut menjadi pemain pertama yang mampu mencetak gol berjumlah dua digit gol pada satu edisi Piala Dunia sejak legenda Jerman, Gerd Muller, melakukannya pada tahun 1970 silam.
Di saat Prancis terus menggempur dan membuang sejumlah peluang emas untuk memaksakan babak perpanjangan waktu, Inggris justru mendapat angin segar. Saka sukses melengkapi catatan hattrick-nya melalui eksekusi penalti.
Prancis sempat kembali menebar ancaman nyata ketika Dembele mencetak gol kelima laga untuk timnya.
Namun, Jude Bellingham akhirnya menutup pertandingan ini dengan sebuah gol solo yang fantastis.
Jude menembus pertahanan sendirian dari garis tengah lapangan, serta sukses mengecoh bek Maxence Lacroix sebelum melepaskan tendangan penyelesaian, tepat sebelum peluit panjang dibunyikan.
Analisis Inggris: Performa gemilang Saka yang sisakan tanya untuk Tuchel
Setelah tersingkir secara menyakitkan di semifinal, di mana keputusan pergantian pemain dan sistem Thomas Tuchel setelah unggul dikritik tajam, sang manajer memutuskan untuk membuat tujuh perubahan.
Perubahan tersebut di antaranya termasuk mencadangkan Harry Kane dan Jude Bellingham, sementara Bukayo Saka tampil sebagai starter.
Kemenangan ini diraih lewat performa yang menyegarkan dan menyenangkan di babak pertama, serta babak kedua yang diwarnai ketegangan dan celah, namun di saat bersamaan terasa sangat menjengkelkan.
Para pendukung Inggris akan bertanya-tanya ke mana perginya intensitas serangan seperti ini saat melawan Argentina, terutama melihat penampilan impresif Saka yang mendominasi permainan dari sayap kanan bahkan sebelum mencetak hat-trick, meski salah satu golnya sempat dianulir karena offside.
Performa luar biasanya di laga ini memicu pertanyaan besar mengapa ia tidak diturunkan sama sekali di semifinal. Ketika Tuchel memilih melakukan perubahan defensif saat melawan Argentina, pendekatan serupa sama sekali tidak terlihat di sini—meskipun laga ini dimainkan dengan tekanan yang jauh lebih rendah.
Pada akhirnya, Inggris berhasil keluar sebagai pemenang dalam salah satu pertandingan paling aneh sekaligus paling menghibur yang pernah mereka mainkan di turnamen mayor. Pertandingan ini menghasilkan total 38 tembakan dengan 20 di antaranya tepat sasaran, dan tidak ada laga Piala Dunia Inggris lainnya yang pernah tercipta gol sebanyak ini.
Analisis Prancis: Era Deschamps berakhir dengan kekalahan
Setelah laga ke-187 sekaligus laga terakhirnya sebagai pelatih—yang memperpanjang rekornya menjadi 27 pertandingan di putaran final Piala Dunia—Deschamps resmi mengucapkan selamat tinggal kepada tim nasional Prancis.
Deschamps, yang membawa Prancis meraih kejayaan Piala Dunia pada 2018, ingin menyudahi eranya dengan gemilang setelah memasang Mbappe dan Michael Olise sejak awal—yang masing-masing berstatus sebagai pencetak gol terbanyak dan pencetak assist terbanyak di turnamen ini. Dan laga ini benar-benar berjalan luar biasa.
Sayangnya, perpisahan ini harus ternoda oleh kekalahan kompetitif pertama Prancis dari Inggris sejak 1982. Meski tampil jauh lebih hidup di babak kedua, Prancis gagal membayar performa buruk babak pertama yang sempat membuat mereka nyaris menanggung malu.
Prancis sebenarnya sempat tampil sangat dominan dalam menyerang. Namun, lini depan mereka berulang kali membentur ketangguhan kiper pelapis Inggris, Dean Henderson, yang tampil gemilang mementahkan peluang emas Rayan Cherki, Mbappe, dan Ousmane Dembele.
Di sisi lain, Olise membuang dua kesempatan bersih sehingga harus menyudahi turnamen ini tanpa mencetak satu gol pun.
Setelah tampil buruk dan tanpa gairah di paruh pertama, kualitas serta energi baru Prancis selepas jeda sempat membuat Inggris kelabakan. Namun, Les Bleus pada akhirnya tetap harus menyerah dalam drama kekalahan yang terasa begitu dramatis sekaligus sulit dipercaya.
Pertandingan ini mencatatkan jumlah gol terbanyak kelima yang sama dalam sejarah laga Piala Dunia, menyamai laga Prancis 7-3 Paraguay pada 1958, dan menjadi laga dengan gol terbanyak di turnamen ini sejak kemenangan Hungaria 10-1 atas El Salvador pada 1982.