Trump raup lebih dari Rp17,9 triliun dari kripto selama setahun, termasuk dari koin meme

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Kali Hays
- Peranan, Reporter teknologi
- Penulis, Peter Hoskins
- Peranan, Reporter bisnis
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
Presiden Amerika Serikat Donald Trump meraup pendapatan lebih dari US$1 miliar (sekitar Rp17,95 triliun) sepanjang tahun lalu dari lini bisnis mata uang kripto. Informasi tersebut terungkap dalam laporan keuangan wajib tahunan miliknya untuk periode 2025.
Dalam dokumen keterbukaan setebal 927 halaman itu, Trump melaporkan penerimaan royalti sebesar US$635 juta (sekitar Rp11,4 triliun) yang bersumber dari koin meme Trump. Nilai aset digital tersebut diketahui sempat anjlok tajam sejak ia luncurkan beberapa hari sebelum resmi dilantik kembali sebagai presiden.
Selain itu, ia juga mencatatkan pendapatan lebih dari US$500 juta (sekitar Rp8,97 triliun) dari World Liberty Financial, sebuah perusahaan kripto yang didirikan oleh putra-putranya bersama dengan anak-anak dari utusan khususnya, Steve Witkoff.
Trump juga mengantongi jutaan dolar tambahan dari sektor real estat serta penjualan berbagai pernak-pernik bertemakan dirinya. Kendati demikian, pihak Gedung Putih membantah keras tudingan bahwa sang presiden memanfaatkan jabatannya untuk meraup keuntungan pribadi.
Baca juga:
Pendapatan dalam laporan keuangan terbaru ini melonjak drastis dibanding laporan periode 2024, saat Trump melaporkan penghasilan sebesar US$600 juta (sekitar Rp10,7 triliun).
Meski demikian, pihak Gedung Putih kembali membantah adanya benturan kepentingan. Mereka berulang kali menegaskan bahwa Trump telah menyerahkan pengelolaan bisnisnya ke dalam sebuah badan perwalian yang diurus oleh putra-putranya.
Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih, Anna Kelly, menyatakan bahwa sang presiden justru telah berhasil membawa AS menjadi "ibu kota kripto dunia" dengan bangga.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
"Baik Presiden maupun keluarganya tidak pernah—dan tidak akan pernah—terlibat dalam benturan kepentingan," ujar Kelly dalam sebuah pernyataan tertulis.
"Semua tindakan yang diambil oleh Presiden Trump dan jajaran pemerintahannya murni demi kemaslahatan rakyat Amerika. Setiap oknum yang mengaku 'jurnalis' dan menggiring opini sebaliknya, sebenarnya hanya mendaur ulang narasi usang dan keliru yang terus-menerus digaungkan oleh Partai Demokrat serta media arus utama selama satu dekade terakhir," tambahnya.
Sang presiden sendiri juga menggarisbawahi bahwa dirinya tidak terikat oleh undang-undang federal terkait benturan kepentingan pejabat negara.
Padahal, Trump dulunya merupakan sosok yang vokal mengkritik mata uang kripto. Pada tahun 2021, ia sempat menuduh Bitcoin sebagai bentuk "penipuan" dan "bencana yang tinggal menunggu waktu".
Namun, peta politik dan bisnis berubah saat kampanye pilpres tiga tahun kemudian. Trump berbalik arah dan menyatakan ambisinya untuk menjadikan AS sebagai "ibu kota kripto di planet ini".
Bahkan, salah satu langkah awal yang ia ambil setelah kembali menduduki Gedung Putih tahun lalu adalah menerbitkan keputusan presiden untuk "mendukung pertumbuhan industri kripto secara bertanggung jawab".
Richard Painter, mantan kepala pengacara etika Gedung Putih di era pemerintahan George W. Bush, menyampaikan kepada BBC bahwa keuntungan US$1 miliar yang diraup Trump dari sektor kripto adalah sesuatu yang "luar biasa".
"Tentu saja ini adalah sebuah benturan kepentingan," tegas Painter.
Senada dengan hal tersebut, Will Walker-Arnott, Direktur Klien Privat di Raymond James Financial Group, menilai strategi Trump sangat kontras dengan para pendahulunya dalam hal mencari keuntungan finansial pribadi saat menjabat.
"Jimmy Carter dahulu memasukkan perkebunan kacangnya ke dalam perwalian buta, dan George W. Bush menjual seluruh sahamnya di klub Texas Rangers sebelum resmi menjadi presiden. Namun, Trump tampaknya berjalan dengan cara yang sangat berbeda dan berhasil meraup pundi-pundi uang yang sangat besar melalui perusahaan kripto milik keluarganya," pungkas Walker-Arnott.
Alkitab, jam tangan, hingga parfum bermerek Trump
Laporan yang dirilis pada hari Selasa tersebut menunjukkan bahwa keuntungan Trump dari sektor kripto jauh melampaui pendapatan dari bisnis real estat miliknya, sektor yang dahulu melambungkan namanya ke panggung dunia.
Trump tercatat mengantongi sekitar US$77 juta (sekitar Rp1,38 triliun) dari klub Mar-a-Lago miliknya dan US$122 juta (sekitar Rp2,18 triliun) dari klub golf miliknya di Doral, Florida.
Ia juga meraup masing-masing lebih dari US$30 juta (sekitar Rp538 miliar) dari sejumlah klub golf miliknya yang berada di Bedminster, New Jersey, Jupiter, Florida, serta Turnberry, Skotlandia.
Berdasarkan dokumen laporan keuangan tersebut, Trump juga menghasilkan jutaan dolar dari berbagai lini bisnis lainnya. Pendapatan ini mencakup US$4,7 juta (sekitar Rp84,3 miliar) dalam bentuk royalti dari penjualan jam tangan bermerek Trump, di samping produk lain seperti Alkitab, sepatu trainers, parfum, hingga gitar bermerek Trump.
Ibu Negara, Melania Trump, juga turut mencantumkan pendapatannya sepanjang tahun 2025 dalam laporan tersebut.
Ia mengantongi US$10,7 juta (sekitar Rp192 miliar) dari "perjanjian lisensi" terkait film dokumenter tentang dirinya yang dirilis tahun lalu. Selain itu, Melania juga mencatatkan pendapatan sebesar US$6 juta (sekitar Rp107 miliar) dari hasil penjualan NFT (non-fungible token), yang merupakan aset gambar digital yang dijual secara daring.
Di sisi lain, sang presiden mencatatkan pendapatan sekitar US$86,5 juta (sekitar Rp1,55 triliun) yang bersumber dari uang penyelesaian berbagai kasus hukum.
Jumlah tersebut di antaranya mencakup US$16 juta (sekitar Rp287 miliar) dari gugatan hukum terhadap ABC, US$16 juta dari CBS Broadcasting dan CBS Interactive, US$24,5 juta (sekitar Rp439 miliar) dari Meta, US$22 juta (sekitar Rp394 miliar) dari YouTube, serta US$8 juta (sekitar Rp143 miliar) dari platform X.
Kendati demikian, pihak Gedung Putih menyatakan bahwa sebagian besar dari uang penyelesaian hukum tersebut telah dialokasikan untuk pembangunan perpustakaan kepresidenan Trump di masa mendatang, serta untuk organisasi nirlaba yang berfokus pada pemeliharaan kawasan taman di wilayah Washington DC.

Sumber gambar, Getty Images
Berdasarkan daftar orang terkaya di dunia yang disusun oleh majalah Forbes, kekayaan Trump saat ini diperkirakan mencapai US$6 miliar (sekitar Rp107,7 triliun)—melonjak drastis dari US$2,3 miliar pada tahun 2024.
Sementara itu, Bloomberg Billionaires Index mencatat kekayaan bersih sang presiden berada di angka yang lebih tinggi, yakni US$7,6 miliar (sekitar Rp136,4 triliun).
Sejak kembali menduduki Gedung Putih, Trump konsisten menerapkan pendekatan yang bersahabat terhadap industri kripto, bahkan di saat perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan keluarganya gencar menerbitkan token digital baru.
Sikap ramah ini kian diperkuat oleh penunjukan kepala regulator keuangan baru. Ketua Komisi Sekuritas dan Bursa Efek AS (SEC) yang ditunjuk oleh Trump kini dipandang luas sebagai sekutu dekat industri kripto.
Sejak mulai menjabat pada April 2025, Paul Atkins, selaku Ketua SEC, telah mengubah arah kebijakan lembaga tersebut. Ia mulai meninggalkan pendekatan pendahuluannya yang dinilai terlalu ketat dan kerap menerapkan kepatuhan hukum lewat jalur penegakan sanksi.
Lebih jauh lagi, pada Juli lalu, Presiden Trump resmi menandatangani Undang-Undang GENIUS Act demi merealisasikan misinya "menjadikan Amerika Serikat sebagai pemimpin mutlak dalam aset digital".
Dengan ketebalan dokumen yang mencapai lebih dari 900 halaman, laporan keuangan tahunan Trump kali ini jauh melampaui volume laporan para pendahulunya. Sebagai perbandingan, laporan keuangan Joe Biden pada tahun penuh terakhirnya menjabat hanya setebal 11 halaman.































